TARIANMU ITU
Puisi Udho Boy Hendra
bila sedang bermenung
kuacap memandangmu
dan engkau menari-nari berpendar, memutari seluruh stage yang beriak dan basah
jika lagi gulana
kuselalu jumawa tatkala sesekali kauselontorkan wajahmu yang jernih
menyambut kedatanganku
dan kau kembali meliuk-liukan tubuhmu nan sintal itu
ketika kudengar kau telah tiada
kuhanya mengumbar kesedihan
dan kolam tempat hidupmu pun kini raib dan berganti dengan tumpukan ketamakan seorang yang membenciku
aku tak lagi menyaksi tarian-tarian dan liuk-liukanmu itu
wahai ikan koi-ku
engkaukah bagian masa lampau yang masih tersisa?
padang, 30.08.2015 jam 12.52 seusai makan siang di sebuah rumah makan
Minggu, 30 Agustus 2015
AMPAS DI SEBUAH NEGERI
Puisi Udho Boy Hendra
di sebuah negeri menggerombollah bergunduk sampah, mengeras dan melulu membusuk. saban hari menusuk hidung sesiapa berharap agar kian eliminir dan terberangus. tapi apa nyana? hanya setriliun asa hanya senadir tingkah
: kamuflase menafikan realitas bahwa ampas itu semakin membukit dan menyesakkan jarak pandang.suatu masa, seorang perempuan memerintah seorang laki-laki entah siapa, dan berujar:"Kaubakar gundukan itu, sekarang juga!"
bertriliun-trilun pinta dan harap hanya imitatif dan permisif bagi makhluk di negeri itu
ampas itu kian menyampah
tapi kapan musnah?
:tanyalah pada penguasa yang sedang memerintah
padang, 30.08.2015 pukul 10.00 wib
Puisi Udho Boy Hendra
di sebuah negeri menggerombollah bergunduk sampah, mengeras dan melulu membusuk. saban hari menusuk hidung sesiapa berharap agar kian eliminir dan terberangus. tapi apa nyana? hanya setriliun asa hanya senadir tingkah
: kamuflase menafikan realitas bahwa ampas itu semakin membukit dan menyesakkan jarak pandang.suatu masa, seorang perempuan memerintah seorang laki-laki entah siapa, dan berujar:"Kaubakar gundukan itu, sekarang juga!"
bertriliun-trilun pinta dan harap hanya imitatif dan permisif bagi makhluk di negeri itu
ampas itu kian menyampah
tapi kapan musnah?
:tanyalah pada penguasa yang sedang memerintah
padang, 30.08.2015 pukul 10.00 wib
Minggu, 23 Agustus 2015
MELEWATI FAJAR
Udho Boy Hendra
kau tiba setelah berbilang masa aku tak lagi mengingatmu, mungkin tiada berhingga
: padahal kau selalu ada
dulu kau kusonsong saat malam pamit
lalu menyambutmu dengan sinar pesan sang surya
ketika kausingsingkan lengan
kau hidang kehangatan di wadah cahaya yang hendak kusantap
kauhamparkan embunmu
titik demi titik
: masih adakah rasa maafmu untukku, wahai fajar, yang melewatimu
begitu saja saban pagi?
padang, 09.06.2015 jam 06.13 WIB
Udho Boy Hendra
kau tiba setelah berbilang masa aku tak lagi mengingatmu, mungkin tiada berhingga
: padahal kau selalu ada
dulu kau kusonsong saat malam pamit
lalu menyambutmu dengan sinar pesan sang surya
ketika kausingsingkan lengan
kau hidang kehangatan di wadah cahaya yang hendak kusantap
kauhamparkan embunmu
titik demi titik
: masih adakah rasa maafmu untukku, wahai fajar, yang melewatimu
begitu saja saban pagi?
padang, 09.06.2015 jam 06.13 WIB
Langganan:
Postingan (Atom)